Bintang itu kini mulai nampak indah.
Seperti bahasa mu yang pernah kau utarakan pada ku.
Bahwa semua akan indah tepat pada waktunya.
Bintang itu kini mulai nampak cerah.
Bagaikan pijarnya tak akan pernah padam.
Semua itu juga karena mu yang pernah memandang sebelah mata.
Dia,bukan laki-laki seperti ku.
Menjauh saat di cintai dan datang saat terlupakan.
Dia,layak untuk mu bukan aku yang harus kau pilih.
Menentang keadaan yang tak mungkin terjadi.
Bintang itu sebenarnya adalah rasa mu.
Bintang itu adalah Dia sang Sahabat ku.
Tak ada lagi kata Sahabat dari kalian buat ku.
Tak akan aku dengar lagi panggilan itu dari kalian untuk ku.
Kini kalian memandang ku sebagai musuh.
Seolah aku pemisah antara mimpi-mimpi kalian.
Semua pada diri ku adalah biasa.
Kenapa???
Karena aku tahu bagaimana rasanya saat aku terjatuh diantara dua hati.
Merasa tersakiti diantara dua hati yang aku sayangi.
Siapa yang peduli saat itu???
Kamu,Kamu dan Kamu???
Tidak ada yang peduli saat itu.
Kalian kini seolah tak ramah pada dunia ku.
Kini Kalian seperti musuh ku.
Sesunggunhnya kalian akan selalu tetap menjadi pelangi di hari-hari ku.
Kalian bukan sahabat ku,kalian tetap teman masa lalu ku.
Jaga Bintang mu itu,dan pada mu bintang,terangilah Cemara mu itu.
Biarkan semua berjalan penuhi setapak panjang.
Biarkan semua menari diatas panggung hijau gurun savana.
Biarkan semua bernyanyi hilangkan sunyi dibalik awan-awan langit ke tujuh.
Dan ku biarkan aliran sungai dendam itu mengalir diantara bendungan yang telah ku buat.
Selamat jalan kawan,semoga bertemu di masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar